Resensi dan Review Novel A Man Called Ove

 

Buku buatan pertama Fredrik Backman, seorang pria Swedish yang diambil dari laman blognya karena desakan pembaca-pembaca setianya dan dijadikan menjadi satu tersebut, menjadi novel nomor satu se-swedia dalam penjualannya dengan distribusi 500.000 lebih eksemplar. Buku ini diterbitkan dalam 25 bahasa, seperti Penerbit Noura Books di tahun 2016 dengan bahasa Indonesianya. Tercetak dengan 440 halaman, bukanlah suatu perkara sulit untuk membacanya berulang-ulang.

 

A Man Called Ove, buku yang cukup menambah kegundahan hati pembacanya. Di sini pembaca akan disuruh mengenal karakter Ove yang mungkin cukup aneh dan tidak dapat diterima. Ove merupakan orang yang sangat kaku dalam berprinsip, bahkan dia membenci orang yang tidak sejalan dengannya.

 

Seperti ”Volvo” Rune dan ”Saab” Ove. Kedua hal itu hanyalah merk mobil ternama di Swedia. Tidak ada yang berbeda dengan mobil Eropa kebanyakan, tapi mesin-mesin itu memicu persaingan di antara kedua karakter buku Fredrick. Ove dan Rune awalnya bertemu di lingkungan rumah baru mereka,  Ove tidak senang dengan pengendara mobil yang melewati lingkungannya tersebut karena menganggu, kesal dan mencoba memperingatkan. Tidak sendirian, Rune juga merasakannya. Mereka bekerjasama memberi palang peraturan di setiap sudut daerah mereka untuk menciptakan keteraturan. Ove merasa cocok dengan Rune hingga kekonyolan terjadi.

 

Ove yang sudah diajari ayahnya untuk mencintai mobil Saab membuatnya hanya bisa menggunakan mobil tersebut. Berbeda dengan Rune, dia memilih Volvo. Ove mulai ragu dengan kedekatan mereka dan mengurangi interaksi dengan Rune, setiap kali Rune membeli Volvo keluaran terbaru, maka Ove akan menyaingi dengan Saab-nya. Hingga akhirnya Ove ingin berdamai dengan Rune, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Rune mengganti Volvonya dengan BMW, lantas Ove pergi meninggalkannya. Ove tidak menyukai orang yang tidak punya satu misi dengannya, terlebih lagi orang yang tidak mempunyai prinsip.

 

Kebenciannya tersebut membuatnya menjadi antisosial. Sejak muda, Ove selalu sedikit berinteraksi dengan orang lain, dan tidak banyak bicara. Jikalau harus memilih diantara berpesta dengan membongkar mobil, maka Ove akan menunjuk pilihan kedua. Di halaman 105 terdapat sebuah kalimat “Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan,”. Ove tidak suka memboroskan setiap detik di meja pesta dengan berbincang hal-hal menjemukan. Namun, dari kalimat tersebut memberikan makna jika manusia tidak boleh membuang setiap waktunya, dan menganggap hal itu adalah dari bagian pekerjaannya.

 

Ove juga selalu menyita waktunya pada kebenaran. Pria tua tersebut terkenal sangat keras pada hal yang sudah menjadi fakta. Dia akan mengumpat pada orang yang tidak menunjukkan hormat pada kebenaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan, posisi parkir yang berantakan, dan hal-hal kemalasan yang melanggar peraturan. Antusiasnya yang tinggi terhadap hal tersebut membuatnya dikudeta dari ketua asosiasi warga lingkungannya. Karakternya yang kaku dan tanpa belas ampun membuatnya tidak disenangi oleh warga sekitar. Ove seperti diktator yang tidak memberi waktu istirahat pada setiap manusia di bumi. Bahkan, dia membenci manusia yang datang telat lebih dari 15 menit. Apabila ada yang melewatkan hal tersebut, maka Ove akan menganggapnya sebagai sampah dan harus dipanggil “Idiot,” sebutan pada orang-orang yang melawannya.

 

Namun kekakuan Ove, takluk pada wanita yang bernama Sonja. Sonja adalah cinta pertama dan terakhir Ove. Ove yang tidak mempedulikan orang lain, takluk di hadapan Sonja. Seperti halnya Adam dan Eve, Ove hanyalah pria kesepian yang membutuhkan sosok wanita. Sebelumnya, Ove adalah yatim piatu dan tidak mempunyai siapapun di hidupannya, dalam hidupnya dia merasa hidup di saat bersama Sonja.

 

Sonja menjadi warna bagi Ove yang hitam putih. Tak pernah sekali pun Ove menyakiti bahkan memukul Sonja, malah an dia akan selalu berada di sisi Sonja. Sonja sendiri adalah orang yang beruntung, dia bisa mendengar segala kekesalan Ove terhadap dunia, padahak Ove sendiri tidak pernah banya bicara, Ove hanya berbicara seadanya. Sonja yang orangnya penuh semangat, tidak membuatnya menjauhi Ove. Di sini penulis seakan mengatakan bahwa perbedaan itu penting, namun dibalut dengan romantisnya Ove dan Sonja.

 

Sayangnya, Sonja harus meninggalkan Ove terlebih dahulu. Sejak itu, Ove tidak mempunyai tujuan hidup lagi, dia hanya ingin segera menyusul Sonja. Maksud saya Ove akan melakukan segala cara, baik itu bunuh diri sekalipun. Cukup terharu membaca kisah cintanya, Ove yang tidak peduli orang lain malahan cinta mati pada orang yang jelas-jelas berbeda dengannya. Namun, hal tersebut tidak lepas dari cinta sejati ala Ove.

 

Pada akhirnya saya mengisi semua paragraf di atas dengan tiga hal yang disukai Ove yaitu Sonja, kebenaran, dan Saab. Buku karya seorang Swedian ini berhasil memukau saya dari segi pembangunan karakter Ove yang menyebalkan menjadi orang yang pantas menerima cinta. Humor ala Eropa menjadi andalan Fredrik sang penulis untuk membuat novel tidak membosankan. Mungkin, beberapa orang tidak akan memahami kelucuan di dalamya, karena tidak semua orang mempunyai selera humor yang sama.

 

Ove yang keras dan pemurah hati muncul bersamaan di setiap bab nya. Penulis berhasil membuat pembaca tidak sepenuhnya membenci atau menyayangi karakter utama tersebut. Makna yang diberikan juga cukup banyak yang bisa dipetik. Buku ini tak akan menghadapkan pembaca pada sesuatu yang berat, pembaca akan dibuat seperti merenung dari prinsip dan karakternya dari orang bernama Ove. Ove menjadi bahan evaluasi segala sifat yang melekat di diri manusia. Fredrik benar-benar memberi pertunjukkan memukau di balik novel yang tampak membosankan. Adapun filmnya yang berjudul sama dengan novel, mungkin bisa membuat anda akan semakin mengerti siapa itu Ove.

Komentar