Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Kemaluan adalah Seorang Filsuf

 

Salah satu buku garapan Eka Kurniawan yang tidak jauh-jauh dari ciri khas otentiknya. Buku tersebut termasuk karya Eka setelah buku paling fenomenalnya, ‘Cantik Itu Luka. Tidak jauh berebda, buku ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ mengambil penggamabaran Eka dalam menulis yang terkesan menggunakan kata-kata dewasa, dan alur cerita yang lebih ditekankan pada diaolog tokoh-tokoh novelnya. Digarap pada tahun 2014 di Jakarta dan didukung oleh Gramedia Pustaka, menjadikan novel tersebut menjadi karya ketiga Eka.

 

Buku ini menceritakan tentang kisah Ajo Kawir yang menjadi karakter utama buku fiksi tersebut. Ajo Kawir merupakan pria Impoten yang berawal dari ulah Ajo Kawir sendiri melihat alat vital perempuan bernama Rona Merah, pada usia remaja. Ajo Kawir yang sebelumnya bisa menegakkan kemaluannya atau Ngaceng, mendadak tidak bisa setelah mengalami hal memalukan tersebut.

 

Ajo Kawir menjadi kebingungan akan hal itu, pasalnya tidak ada penjelasan logis terhadap keimpotennannya. Dia menjadi orang yang akan bingung dan menginginkan satu tujuan dalam hidupnya, Bisa Ngaceng. Ditemani sahabat karibnya, Tokek. Ajo selalu mencari cara untuk mendapatkan kebebasannya kembali. Berbagai cara telah dilakukannya, hingga akhirnya ia menyerah dan menerima keadaan.

 

Buku ini mengemas filosofi hidup melalui kemaluan. Mungkin terdengar aneh. Tapi, Eka ingin menjelaskan dalam buku tersebut, bahwa hasrat dan nafsu manusia semua tergantung pada kemaluannya. Kemaluan ini merupakan gambaran yang pas untuk merealisasikannya. Karena fungsinya hanya dua, untuk kencing dan seksual. Bila ada lagi, mungkin itu perspektif masing-masing.

 

Ajo Kawir yang hidupnya selalu sembrono dan seenaknya sendiri, mulai merasa bosan dan belajar dari kemaluannya yang tidak bisa tegak. Dia memahami jika keinginan nafsu tidak harus selalu dituruti, seseorang juga membutuhkan hari ketenangan.

 

Filosofofi yang dituturkan dalam buku ini sangat terdengar frontal. Pasalnya, pembaca bisa menemukan secara langsung pesan-pesan moral dari buku, mulai dari ringannya pembahasan hingga dialog yang dipaparkan secara jelas. Buku ini juga tidak menjelaskan secara pasti apa yang ada dibalik semua rentetan konflik dan peristiwa dalam buku, seakan-akan pembaca disuruh fokus kepada kisah penis Ajo Kawir.

 

Namun, buku ini juga secara gamblang memaparkan jika yang terpenting dari buku tersebut adalah hal tersebut. Mulai dari judulnya yang menerangkan jika fokusnya adalah kerinduan Ajo Kawir pada kengacengannya. Ajo Kawir terus membayar konsekuensi-konsekuensi. Menjadi petarung, masuk penjara, membunuh orang, hingga menjadi supir truk.

sebuah pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya adalah, sepenting itukah kemaluan?. Sangat penting, karena itu merupakan anugrah tuhan yang tidak boleh diuah-ubah. Walaupun fungsinya receh, tapi seperti apa yang didapat Ajo Kawir. Bahwa menjadi orang yang berbeda juga bukan merupakan sesuatu yang menyenangkan.

 

Bisa saja anda bangga melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain. Namun apa yang kita dapatkan juga harus dibayar. Tidak semua orang beruntung mendapat kembalian dari apa yang telah dibeli. Pengorbanan adalah suatu hal nyata.

 

Eka menggunakan lata belakang yang realistis di Indonesia. Seperti kehidupan supir truk, kondisi penjara, mafia-mafia Indonesia, kekerasan pada perempuan dan lain-lain. Di novel tersebut menjelaskan peran perempuan yang hanya sebagai pemuas hasrat saja. Hal tersebut sangat realistis di Indonesia, jika perempuan di negara ini hanyalah bagian dari kesenangan duniawi. Banyak kasus pembunuhan, pemerkosaan, dan tindak kejahatan lainnya yang merupakan korbannya perempuaN. Eka mengangkat hal tersebut sebagai sindiran keras akan peran perempuan. Perempuan selayaknya dihargai dan tidak didominasi seperti cerita.

 

 

Dari kemaluan Ajo mengajarkan jika ingin hidup lebih tentram yaitu tidak mengandalkan hasratnya saja. Ajo yang senang mengintip Rona Merah dan memukuli orang, mulai mengerti jika hal tersebut hanya memberikan efek kecanduan dan tidak menyenangkan jiwanya. Bak hukuman dari tuhan, Ajo diberikan puasa ngaceng agar lebih mengerti tentang hidup yang aman sentosa, tanpa menganggu kehidupan orang lain.

 

Mungkin saja ada beberapa pembaca yang tidak sadar sedang menerima hukuman seperti yang dialami Ajo. Maka dari itu, mulailah melihat diri sendiri, dan belajar dari pengalaman. Dibekali dengan mengontrol segala hal duniawi. Karena tidak ada yang langgeng di dunia ini, seperti manuknya Ajo Kawir.

 

Tidak perlu menunggu Tuhan bertindak untuk berbuat lebih baik. Namun, menghukum diri sendiri merupakan cara lain yang bisa dilakukan. Seperti puasa ngaceng Ajo Kawir, puasa makan berat dan sebagainya. Hukuman-hukuman tersebut bukan berarti hanya seperti pukulan neraka, tapi juga terdapat aspek kebaikan. Orang yang jarang coli dan menahan kemaluannya, bisa terhindar dari pornoaksi dan pikiran-pikiran jahat, Puasa makan agar tubuh lebih proporsi.

 

Mengherankan, sebuah kemaluan bisa mengajarkan cara hidup, bak seorang filsuf. Tentu Eka tidak hanya menginginkan pembaca untuk berbicara kepada burungnya seperti yang dilakukan Ajo Kawir untuk menentukan jalan hidup. Yang dimaksud disini adalah intropeksi diri, dan tidak mengedepankan kemaluan atau nafsu sebagai promotor segala kegiatan. Karena apapun yang didasarkan pada nafsu, hanya menimbulkan ketidak puasan dan kekecewaan.

 

 

 

Komentar

Posting Komentar