Curhatlah pada segala hal, NH. Dini juga melakukannya
Sebuah novel karya sastrawati kawakan Indonesia, Nurhayati Sri Handayani atau sering dipanggil NH. Dini,berjudul ”Dari Ngaliyan ke Sendowo”. Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2015. Menceritakan Otobiografi penulis pada masa senjanya dengan 268 halaman kertas novel.
NH. Dini menceritakan bagaimana sepak terjangnya menjadi penulis di Indonesia dalam buku ini. Permasalahan upah penulis sastra negara tercinta yang hanya dibayar 10 persen dari royalti penjualan buku, ditambah pajak sebesar 15 persen, juga termuat. Upah yang sedikit ini menjadi kerja ekstra bagi NH. Dini untuk terus bertahan hidup.
Ditambah minat baca masyarakat Indonesia yang terendah nomor dua. Menjadikan materi penulis terseok-seok untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tantangan tersebutyang membuat banyak orang Indonesia tidak mau menjadi penulis. Terkecuali, NH. Dini dan penulis-penulis loyal lainnya.
NH. Dini masih memperjuangkan minat baca Indonesia melalui seminar-seminar, pendirian ‘Rumah Baca’, dan berbagai hal ainnya yang tertuang dalam buku. Dirinya juga merasa tidak dihargai oleh promotor penyelenggara seminar yang memberinya upah 1.000.000 Rupiah, itupun tidak cukup untuk membayar biaya transportasi dan sarananya.
Permasalahan-permasalahan sastrawan dan curhatan NH. Dini cukup Gayeng dipadukan dalam buku ini. Penyajian tokoh-tokoh seperti Jassin, Ipus mendapat ulik positif dan berpengaruh dalam kondisi hati penulis dalam membuat karyanya. Seakan NH. Dini menceritakan segala hal secara rinci.
Terlepas dari gaya kepenulisannya, saya begitu kagum dengan cara NH. Dini menulis sesuatu hal sepele, menjadi berlembar-lembar. Anehnya, saya tetap membuka setiap halamannya. Seperti sebuah kritik pada penulis lainnya. Bahwa sebuah buku tidak harus fokus pada menariknya jalan cerita, tapi bagaimana setiap tulisan adalah hal menarik dan tak terduga.
Tidak ada konflik yang dibangun dalam Novel ini, asli Otobiografi. Seakan pembaca juga diajak untuk mencurahkan jika tidak harus masalah hidup saja yang harus ditunjukkan. NH. Dini merancang buku ini untuk menunjukkan kesehariannya, dalam kata lain mengajak semua orang untuk bercerita.
Kebanyakan orang sangat sulit untuk menceritakan kesehariannya, mereka takut untuk membuat orang lain khawatir, bahkan tidak didengar. Kemungkinan pembaca juga melakukan hal yang sama, saya yakin (dasar pembohong). Inilah keuntungan membaca karya NH. Dini, dia memberi pesan pada novel ini jika segala hal harus diceritakan dengan jujur. Karena itu akan membuat hati merasa lega, dan semua orang bisa menerka sebab-penyebabnya. Curhatan ringan juga bisa melemparkan masalah baru untuk diselesaikan dan dipikirkan orang lain. Hal tersebutlah yang juga mempengaruhi bagaimana NH. Dini tetap legowo dengan apa yang ia hadapi, karena dia merasa tidak mempunyai hutang, hutangnya dibayar tuntas di buku ini, khususnya.
Berbicara tentang curhatan ringan, sebenarnya orang zaman dulu suka curhat pada apapun, khususnya orang Jawa. Orang Jawa seperti NH. Dini senang melantunkan semua hal yang dilihat. Seperti lagu ‘pitik’ yang mungkin sering didengunkan orang Jawa.
Orientasi tersebut sebenarnya membuat Indonesia tidak kekurangan sastrawan dan minat baca. Banyaknya karya orang Indonesia, baik Indie dan tidak, melelang buana di segala penjuru negeri. Setiap harinya, orang dulu selalu melantunkan sastra, setiap mandi,makan. Tidak harus marah, sedih, jatuh cinta, dan mengkritik penguasa.
Sialnya kebudayaan itu lunur karena modernisasi bertujuan mendapat kerja dan cuan. Orang-orang sibuk untuk memegang komputer, dan tidak pernah curhat seperti NH. Dini. Dan sekarang masyarakat mengkritik kehilangan budaya tersebut. HEH JANCOK...GERABAH EN AWAKMU DEWE TEL. Maaf, namun maksud saya adalah yang membuat kurangnya minat baca kita adalah pola pikir hidup sendiri. Kita terlalu fokus pada cita-cita, dan tak pernah menuliskan apapun prosesnya, baik gagal atau sebaliknya. Ditambah dijejali kefokusan pada hidup enak. Padahal, hidup gak enak itu sendiri yang membuatnya adalah kita, atau anda sendiri.
Orientasi hidup enak selalu diakhir, tapi tak pernah sekalipun membuat segala hal menjadi enak. Seperti ini, semua hal bahagia adalah dengan menghargai setiap proses dan bersyukur, salah satu caranya menceritakan hal itu. Tidak hanya saat sudah berada di posisi yang diinginkan. Hidup memang sulit, tapi jangan menyulitkan hidup.
Otobiografi hidup NH. Dini yang tidak menarik ini menjadi sangat hebat karena dia mudah untuk memuat hal-hal sepele menjadi novel. Pesan ini tertangkap sangat jelas di pikiran saya. Pada akhirnya, NH. Dini tetap mendapat apresiasi dan buku ini menjadi suatu karya yang cukup terkenal setelah kepergiannya.
Singkatnya, belajarlah dari novel ini. Bahwa segala hal harus diceritakan secara jujur dan rinci, agar tidak menyisakan kegundahan hati. Lebih-lebih jika hidupmu bisa menjadi sebuah karya yang menjual. Begitu mudah kan mendapat uang?. Namun kembali lagi, suatu hal yang melegakan adalah curhat dan mendapat kepuasan hati daripada bisa membeli segala hal.

Komentar
Posting Komentar