Menilik Problem Sosial Dalam ''Gandamayu''



Judul Buku: Gandamayu
 
Penulis: Putu Fajar Arcana
 
Genre: Fiksi
 
Penerbit: Penerbit Buku Kompas











   Dikisahkan di sebuah kahyangan. Dewi Uma sebagai istri Dewa Siwa dan juga menjadi bidadari tercantik se-kahyangan. Mendapat hukuman karena kesetiaannya menjadi istri. Dia dikutuk menjadi Nini Durga penguasa kegelapan dan dibuang ke kuburan paling angker, Setra Gandamayu. Kesetiaannya menjalankan tugas dari suami menjadi salah paham dan membuat menderita Dewi Uma. Alih-alih itu adalah tugas mulia istri, tetapi itu hanya permainan seorang suami atau bisa saya sebut.... Diktator Keluarga.

 Putu Fajar Arcana dalam novel berjudul Gandamayu. Membahas persoalan gender pun tak hanya menjadi urusan umat feminis di Bumi, dewi-dewi di negeri Kahyangan juga mengalami kegelisahan serupa. Putu mencoba mengambil perspektif kisah Dewi Uma atau Dewi Durga untuk mengaitkan persoalan kaum wanita yang pada umumnya berkutat pada ketidakberdayaan atas dominasi maskulinitas. Segala persepsi feminisme yang ingin dicetuskan Putu pun begitu lugasnya mencuat dari sudut pandang Dewi Uma. Tak bisa dipungkiri, ketika seorang penulis pria menyoalkan isu perempuan, terkadang ada jalinan emosional dan sensitivitas yang tak sepenuhnya tersampaikan tinimbang dengan penggalian tutur seorang penulis wanita. 

  Kisah Dewi Uma ini pun berlanjut pada perang paling melegenda, Mahabharata. Sebuah novel yang memadukan permasalahan dalam hidup dan mitologi. Sebenarnya penafsiran cerita pewayangan sudah menjadi tugas bagi kita. Bahwa semua persoalan hidup dapat ditemukan dalam kisah-kisah mitologi. Dimana kita tahu sendiri, bahwa tidak banyak anak muda zaman sekarang pun tahu nama tokoh-tokoh mitologi. Cerita modern dengan pembahasan secara gamblang dan terkesan berumur pendek, cukup mempengaruhi konsumtif anak muda zaman sekarang. 

  Putu Fajar Arcana juga saya rasa membuat novel ini agar bertujuan. Mencari solusi dalam lingkup wilayah sendiri dan mengamalkan nilai-nilai para leluhur.

Komentar